gtag('config', 'UA-178152254-1'); Hijrah Part 2: Jakarta, Here I Come! - Lifestyle Blogger Medan - Cerita Jalan

Hijrah Part 2: Jakarta, Here I Come!

Menaklukkan Ibu Kota di Usia 40

Kalau dulu ke Jakarta cuma sebentar untuk jalan-jalan atau transit saja, sekarang rasanya lain, ada deg-deg an nya.



Apa rasanya di umur 40 tahun, merantau lagi?

Bukan ke luar negeri.
Bukan juga karena terpaksa.

Tapi kali ini… menaklukkan ibu kota, Jakarta.

Lucunya, pekerjaan yang sedang aku jalani sebenarnya bisa dilakukan dari kampung halaman. Remote. Laptop, internet, selesai.

Lalu kenapa harus pindah?

Nah, itu dia.

Kadang hidup bukan cuma soal pekerjaan bisa dilakukan di mana, tapi tentang di mana kita merasa perlu berada untuk bertumbuh lagi.

Buat yang pernah membaca blogku, atau mengikuti cerita hidupku dari dulu, mungkin sudah tahu tentang episode hijrah pertamaku.

Waktu itu, sebuah perpisahan membuatku harus meninggalkan Indonesia dan pindah ke ibu kota negara tetangga, Kuala Lumpur. Ada fase bertahun-tahun di sana. Ada banyak cerita, pekerjaan, pertemanan, pengalaman, jatuh-bangun, sampai akhirnya aku kembali lagi ke kampung halaman.

Medan.

Kembali ke rumah, tapi rasanya sudah berbeda

Aku tinggal di Medan selama 20 bulan.

Dua puluh bulan.

Tidak sampai dua tahun, memang. Tapi cukup panjang untuk membuatku kembali belajar satu hal:

Pulang ke tempat yang pernah kita tinggali bukan berarti kita akan menemukan kehidupan yang sama seperti dulu.

Medan sudah berubah.

Aku juga sudah berubah.

Dulu aku tinggal bertahun-tahun di kota ini sebelum akhirnya merantau selama kurang lebih tiga tahun di Malaysia. Ketika kembali, rasanya agak… awkward.

Seperti datang ke rumah sendiri, tapi bingung harus duduk di mana.

Aku sempat berpikir,

"Aku mau melakukan apa di sini?"

Aku mencoba menghubungi teman-teman lama. Berharap mungkin semuanya masih seperti dulu.

Tapi kemudian aku sadar…

mereka juga sudah punya kehidupan masing-masing.

Selama aku pergi merantau, hidup mereka juga berjalan. Mereka punya pekerjaan, keluarga, circle, kesibukan, dan cerita mereka sendiri.

Dan tentu saja, aku tidak bisa tiba-tiba kembali lalu berharap semua orang punya waktu yang sama seperti dulu.

Dari situ aku belajar lagi.

Aku ikut ini-itu.
Mencoba berbagai kesempatan.
Menerima tawaran pekerjaan dari teman.
Belajar hal-hal baru.
Berkenalan dengan orang baru.

Sampai akhirnya aku mencoba membangun bisnis sendiri.

Pokoknya, kalau ada pintu yang sedikit terbuka, aku coba intip dulu.

Siapa tahu itu jalannya.

Lalu hidup mulai memberikan plot twist

Tapi namanya juga hidup.

Tidak semua bab berisi hal-hal menyenangkan.

Ada kejadian yang mengecewakan. Ada kehilangan. Bahkan sempat mengalami kemalingan.

Ada juga urusan hati.

Patah hati.

Ya begitulah…

Hidup kadang memang punya selera humor yang aneh.

Belum genap dua tahun di Medan, tapi genap 20 bulan, aku mulai merasa:

"Kayaknya sudah cukup deh. Saatnya cari peruntungan baru."

Bukan karena Medan tidak baik.

Justru sebaliknya.

Banyak hal baik yang aku dapat di sana.

Banyak orang baik yang hadir. Banyak yang menyayangi, membantu, bahkan masih memberikan perhatian sampai sekarang.

Tapi ada bagian dari diriku yang terus berkata,

"Pergilah. Cari udara baru. Cari insight baru. Belajar lagi."

Aku rasa aku memang tipe manusia yang selalu membutuhkan ruang untuk bergerak.

Karena kalau terlalu lama diam di tempat yang sama, pikiranku mulai terasa penuh.

Aku ini sebenarnya sedang mencari apa?

Selama di Medan, aku merasa seperti sedang stuck.

Input dan output terasa tidak seimbang.

Aku memang senang berbagi pengalaman dengan orang lain. Entah melalui blog, media sosial, komunitas, kelas, pekerjaan, atau sekadar ngobrol dengan orang-orang yang kutemui.

Berbagi itu menyenangkan.

Tapi lama-lama aku merasa…

aku terlalu banyak mengeluarkan sesuatu, sementara diriku sendiri butuh diisi lagi.

Aku butuh belajar.

Butuh melihat dunia dari perspektif lain.

Butuh bertemu orang-orang baru.

Butuh mengalami sesuatu yang belum pernah kualami.

Dan mungkin, aku butuh kembali menjadi murid setelah terlalu lama berada di posisi yang banyak berbagi.

Jadi aku mulai berdoa.

Bukan meminta tempat tertentu.

Bukan meminta kota tertentu.

Aku hanya bilang kepada Allah,

"Ya Allah, kalau memang aku harus pergi lagi, letakkan aku di tempat yang memang diriku sekali. Tempat di mana aku bisa bertumbuh, bekerja, belajar, dan menjadi versi diriku yang lebih baik."

Aku juga sering mengulang afirmasi yang sama.

Tolong letakkan aku di tempat yang memang menjadi tempatku.

Dan ternyata… e voila... 

jawabannya datang dengan cara yang tidak terlalu dramatis.

Jakarta, here I come.




Suatu hari datang tawaran pekerjaan hybrid di Jakarta.

Sebuah production house yang terlibat dalam proyek film.

Pekerjaannya memungkinkan aku untuk onsite, bertemu langsung dengan tim, masuk ke lingkungan baru, sekaligus tetap memungkinkan aku mengerjakan pekerjaan remote yang selama ini masih berjalan.

Aku langsung berpikir,

"Okay. This is it."

Tanpa terlalu banyak drama.

Aku mulai riset sana-sini, mencari tahu area tinggal, menghitung ini-itu, memikirkan transportasi, biaya hidup, lingkungan, dan segala macam pertimbangan yang biasanya muncul ketika seseorang memutuskan pindah kota.

Sampai akhirnya…

aku pindah.

Ke Jakarta Selatan.

Lebih tepatnya, Kemang.

Dan dimulailah babak baru.

Hijrah Part 2.

Umur 40 dan memulai lagi

Mungkin bagi sebagian orang, umur 40 adalah masa ketika hidup mulai tenang.

Sudah punya keluarga.

Sudah punya rumah.

Sudah settle.

Sudah tahu mau hidup seperti apa sampai tua.

Tapi hidupku ternyata punya versi cerita yang berbeda.

Di umur 40, aku justru kembali merantau.

Membawa koper.

Membawa laptop.

Membawa pengalaman.

Membawa luka-luka kecil yang sudah menjadi bagian dari perjalanan.

Dan tentu saja…

membawa harapan.

Aku menyebut diriku sendiri sebagai single premium high value.

Bukan karena hidupku sempurna.

Bukan karena aku selalu menang.

Tapi karena aku tahu satu hal:

aku adalah pejuang.

Pejuang tidak selalu berarti orang yang menang.

Kadang pejuang adalah orang yang ketika hidup menjatuhkannya berkali-kali, dia masih memilih untuk bangun.

Masih mau mencoba.

Masih mau belajar.

Masih mau pergi mencari jalan lain.

Dan untuk tetap bertahan tanpa tumbang saja, menurutku…

itu sudah hebat.

Terima kasih, Medan.

Yang paling membuat hati ini nano-nano justru adalah ketika aku menyadari ternyata masih banyak orang di Medan yang menyayangi dan memberikan perhatian kepadaku.

Ada yang bertanya kapan pulang.

Ada yang mendoakan.

Ada yang merasa kehilangan ketika aku pergi.

Dan itu membuat keputusan untuk pergi menjadi tidak mudah.

Tapi mungkin begitulah hidup.

Kadang kita harus meninggalkan tempat yang sebenarnya nyaman, bukan karena tempat itu buruk, tapi karena jiwa kita membutuhkan perjalanan berikutnya.

Jadi, untuk teman-temanku di Medan…

Terima kasih.

Terima kasih sudah menjadi bagian dari 20 bulan perjalanan ini.

Terima kasih untuk semua cerita, pertemanan, kesempatan, tawa, drama, bahkan patah hati dan kehilangan yang membuatku belajar banyak hal.

Aku pergi bukan karena kalian kurang baik.

Aku pergi karena mungkin sekarang giliranku untuk belajar di tempat lain.

Jakarta, mari kita lihat apa yang terjadi.

Jadi…

inilah aku.

Umur 40.

Merantau lagi.

Kali ini ke Jakarta.

Dengan pekerjaan, mimpi, rasa penasaran, dan sedikit keberanian yang entah datang dari mana.

Aku tidak tahu cerita apa yang akan menungguku di sini.

Mungkin akan ada kesuksesan.

Mungkin ada kegagalan.

Mungkin ada teman baru.

Mungkin ada cerita cinta.

Mungkin.

Atau mungkin justru ada banyak hal yang belum bisa kubayangkan sekarang.

Tapi satu hal yang aku tahu:

aku ingin hidupku tetap bergerak.

Karena ternyata hidup tidak selalu harus tentang menemukan tempat untuk menetap.

Kadang hidup juga tentang menemukan tempat untuk bertumbuh.

Dan untuk sekarang…

Jakarta, aku titip cerita baru di sini.

Semoga perjalanan hijrah keduaku ini membawa keberkahan.

Semoga kita semua selamat dunia dan akhirat.

Semoga sukses selalu untuk kalian yang membaca cerita ini.

Dan untuk teman-teman yang mendoakan kepergianku…

doa baik kalian, semoga kembali menjadi doa baik untuk kalian juga.

Salam,

#echyinjakarta

Tunggu cerita-cerita selanjutnya di blog dan media sosialku, ya.

Karena ini baru bab pertama dari Jakarta.

Bye! 👋🏻

Terima kasih sudah membaca sampai akhir. 🤍

Hijrah Part 2: Jakarta, Here I Come! Hijrah Part 2: Jakarta, Here I Come! Reviewed by Ceritajalan.com on Oktober 09, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Terimakasih sudah memberi komentar dengan sopan

Diberdayakan oleh Blogger.