Friday, September 21, 2018

Perjalanan HIjrah Menuju Istiqomah

September 21, 2018 11
ceritajalan.com Di Yogyakarta




Iman manusia selalu diuji, bisa naik bisa turun, siapalah saya yang seorang perempuan pula, punya mood baik dan tidak, kadang muncul kata-kata sok bijak, kadang nynyir di medsos. 

Proses hijrah termasuk keputusan berat, ada beban didalamnya, menyangkut nama Agama Islam yang saya anut, ketika saya mengkaji bahwa menutup aurat itu wajib bagi Wanita muslim maka sejak sekolah SMA saya sudah berhijab dengan frekuensi tutup botol, hingga kuliah juga kalau mood jilbab dipakai kadang dibuka, hingga akhirnya saya menikah memakai hijab keluar rumah sudah mantap, tapi ke warung sebelah masih pakai celana pendek, ajaran siapa ini.


Ketika mengkaji kitab suci Al-quran dan mengkerucut ke satu surah An-nisa yang membahas semua permasalahan hukum wanita dan ini wajib, mulailah saya tahu bahwa ada perbedaan mahram mana yang boleh melihat aurat saya dan mana yang tidak termasuk bersentuhan kulit, tapi ini berjalan hanya sementara.

Kenapa, pergaulan saya yang senang dan hobi dengan komunitas yang masih campur aduk wanita dan pria, serta cara berbicara saya yang blak-blakan bahkan terkesan kurang ajar, atau mulut saya yang tidak bisa di rem ini kalau tertawa masih terbahak-bahak.  Saya kadang berfikir "ah yang penting kan hatinya ga busuk, ga munafik, ga negatif thinking" hal inilah yang membuat saya masih dipercaya teman-teman kalau saya humble.

Tahun 2015 adalah titik balik dimana saya menggunakan Gamis pertama saya, maklum suami sudah punya gaji lumayan untuk memberi saya budget membeli pakaian baru, dan itu Gamis, dan saya langsung menantang diri untuk solobacpacker keliling jawa dengan judul "seorang istri sendirian keliling Jawa dengan hijab syari" ternyata diperjalanan respons orang-orang sekitar itu baik, saya merasa dijaga oleh Allah sepanjang waktu, dan  ketika saya lihat-lihat sosmed, olshop, dll, ingin rasanya membeli gamis yang dipakai oleh para tersohor, apalagi wanita-wanita muslimah yang notabene artis, saya pun coba-coba ingin tahu berapa sih harga gamis brand OSD itu, ternyata OMG, beli jilbabnya sehelai saja saya ga sanggup, sampai saya berinisiatif untuk menabung demi membeli jilbab syar'i pertama saya seharga 120rb waktu itu baru gajian.


sewaktu backpackeran di benteng vredeburg, jogja

Berselang waktu, memakai gamis dan jilbab syar'i ini juga ada naik turunnya, kadang kalau datang ke kajian dipakai, bergaul dengan teman-teman tak pakai, ada alasan tertentu kadang kalau naik motor, saya tak mau ribet dengan rok panjang itu. dengan niat yang masih menuju syar'i saya menabung lagi membeli gamis yang saya sukai berikut dengan jilbabnya, ternyata pernah saya membeli satu set dengan harga 300rb, menurut saya ini mahal.

Tahun 2018 sampai sekarang saya hanya punya gamis dan jilbabnya hanya 5 set, itupun saya pakai terkesan itu-itu saja, ya mau bagaimana lagi terkadang bujet saya bukan fokus di baju tapi bagaimana hijrah yang sesungguhnya dari yang tak baik menjadi baik, kalau untuk perempuan mungkin salah satunya dengan pakaian yang semakin tertutup, jujur saja saya malah kalau dibutuhkan masih memakai celana dan blouse kalau keluar rumah dengan ketentuan tetap tidak ketat, tembus pandang dan nyeplak atau paling tidak jilbab segi empat dengan gaya menutup dada.

Bersyukur sampai sekarang saya istiqomah memakai jilbab bahkan ke warung sebelah untuk membeli sebutir telor, tapi untuk gamis dan jilbab lebar masih saya usahakan, kalau ada yang murah dan sesuai syariat kenapa tidak. 

Adalah Avalable brand baru yang akan segera launching di bulan ini menawarkan gamis dengan bahan yang baik dan berkualitas, murah tapi tidak murahan membuat sayembara #journeytosyari dan saya ikut serta untuk menceritakan pengalaman saya hijrah. Bagaimana deg-degan nya saya waktu pertama kali memakai jilbab panjang itu, pikiran saya acakkadut, bagaimana dengan perkawanan saya, apakah mereka akan menjauhi saya, bagaimana nanti kalau mereka bertanya terus saya sok suci dan ga hapal ayat-ayat yang menyuruh saya hijrah, ah semua sudah berlalu, semua dimudahkan Allah ternyata. 

Diumur yang dewasa saat ini saya semakin nyata bahwa semua harus difilter, dan hijab itulah simbol dari filter seorang wanita muslim, entah sikapnya, batas bergaulnya, dan tunduknya ia dari Tuhannya, ah.... hijrah itu ternyata indah.

Monday, September 17, 2018

Ke Danau Toba, Kerja Sambil Liburan

September 17, 2018 9

Kadang Tuhan memberi kita rezeki yang datang dengan tiba-tiba tepat disaat kita memang butuh, sehingga keputusan nya tetap ditangan kita, take a chance or leave it.

Saya sedang menekuni dunia blogger, tulis menulis, dan menulis jurnalistik, seketika datang tawaran untuk ikut menjadi peserta Raker Korwalis dari PLN WILSU, dan lokasinya berada di kota Parapat kenapa tidak, yah hitungannya juga lumayan perharinya, sekalian liburan pula, sebagai owner dari ceritajalan.com, saya bangga sekaligus senang.


Sebenarnya jobdesk saya sangat sederhana, yaitu menjadi bagian media yang menginformasi masyarakat tentang program-program dari PLN maka itu saya diundang menjadi peserta raker dari korwalis sumut.

Raker pertama korwalis ini dimulai pada tanggal 14-16 sept 2018, berlokasi di mess PLN Parapat, di depan mess ini terhampar pemandangan langsung keindahan Danau Toba, di hari pertama raker agenda nya adalah merumuskan dan mengusulkan program-program kerja dari sub bidang masing-masing untuk PLN WILSU, saya ketepatan bagian di bidang informasi dan komunikasi, programnya antara lain penguatan informasi, pengelolaan isu kelistrikan, pelatihan informasi kelistrikan, dan dialog publik.

pemandangan dari depan mess

Kegiatan di hari pertama jumat 14 september dimulai dari pembukaaan acara oleh Bapak Rudi Artono selaku bagian humas dari PLN WILSU dan berlangsung hingga malam hari disertakan makan 3 x sehari yang tepat waktu, lalu di hari kedua tanggal 15 september  kita semua berkegiatan dilapangan dengan judul presstour ke daerah,  cerita ini ada link berikut dan sekaligus menjadi liputan berita para tim wartawan. malam harinya merupakan acara bebas, hiburan dan bersantai, lalu esoknya di pagi hari kami masih ada agenda lagi yaitu jalan-jalan. Nah ini yang buat semangat.

Pak Rudi menjelaskan sedikit mengenai kinerja PLN WILSU

daerah kegatan Presstour kita, segar ya pemandangannya

rumah diujung sana dengan hamparan luas lahan warga sudah teraliri listrik

Saya terakhir ke Danau Toba itu ditahun 2010 alias 8 tahun yang lalu, banyak juga perubahan signifikan disini, sudah ada tulisan logo nya, lebih rapi dan mulai bersih, ingin menyebrang ke pulau Samosir tapi masih takut dan trauma dengan kejadian KM. SINAR BANGUN, jadinya yah foto-foto dan menikmati pemandangan alam sekitar Danau Toba, lanjut lagi hari berangkat siang rombongan bergerak ke arah Sidamanik kebun teh, setelah sampai kami tak lupa mengabadikan diri dan mengambil angel terbaik untuk berfoto lalu menuju kota Siantar untuk makan siang, dan lanjut pulang ke Medan. 


hari yang tak begitu cerah karna sedang gerimis tak menyurutkan niat untuk berfoto disini

kebun teh Sidamanik, Bah Butong

Demikian "workholiday" saya, lumayan jalan-jalan gratis dibayar pula, yanh inilah mungkin salah satu cara untuk mendapat traveling gratisan, mudah-mudahan kamu juga dapat kesempatan ini juga ya.

selamat bercerita, selamat cerita sambil jalan.


PLN WILSU Tebarkan Cahaya Hingga ke Dusun Lumban Siregar

September 17, 2018 2



Sabtu, 15 september 2018 adalah hari penting bagi warga Dusun Lumban Siregar, Desa Huta Namora di Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Toba Samosir. Bagaimana tidak mereka hidup sudah lebih dari 16 tahun di wilayah itu tapi baru sekarang menikmati listrik dimana tim kami tepat sampai kerumahnya, sebagai momentum resmi pemasangan alat listrik dirumah mereka. Lokasi ini bisa ditempuh dalam satu jam perjalanan dari Parapat, kawasan wisata Danau Toba



Kami/tim yang dimaksud adalah para peserta dan pengurus korwalis (kelompok kerja wartawan listrik) meliput kegiatan ini bersama Bapak Manajer PLN Rayon Porsea, Elfrid Pasaribu mengatakan desa terbaru yang kini sudah dialiri listrik yakni Desa Huta Namora di Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Toba Samosir.

Bapak Elfrid Pasaribu

Ketika saya menginterview warga yang rumahnya baru dialiri listrik ini, mengungkapkan kegembiraannya bagaimana mereka telah lama menunggu datangnya listrik untuk kebutuhan hidup mereka, bayangkan selama itu mereka tidak punya alat-alat elektronik, kecuali HP, ketika saya tanya dimana mereka ketika ingin mencharger, mereka akan pergi keluar dari rumahnya berjalan atau naik motor hingga 5 km kedepan kerumah warga/tetangga atau warung yang sudah teraliri listrik. Dan alat listrik yang dipasang dirumah mereka adalah alat listrik prabayar dimana mereka juga belum tahu informasi cara penggunaannya, sehingga saya langsung memberitahu bahwa nanti pihak PLN daerah sini akan mensosialisasikan cara menggunakannya.



Jangan membayangkan dusun ini ramai penduduk, jarak 1 rumah ke rumah tetangga lainnya paling dekat itu bisa 500m - 1km, selebihnya adalah lahan-lahan luas kebun mereka sebagai mata pencaharian mayoritas penduduk. 

Disini hanya ada 17 KK di desa ini dan baru 3 rumah yang masuk listrik, termasuk salah satunya rumah warga yang diwawancarai tadi, Bapak Oloan Sinaga. Namun pihak PLN tetap berkomitmen untuk menyelesaikan penarikan jaringan listrik hingga ke desa terpencil lainnya yakni Desa Jambu Dolok, Kecamatan Pintu Pohan.

Tiang listrik baru di desa Huta Namora

Kendala dalam pemasangan listrik ini karena penarikan jaringan masih harus dilakukan manual karena penyebabnya keadaan topografi wilayah yang belum bisa dilalui kendaraan. Tiang listrik dan kabel masih harus dipikul oleh pekerja ke lokasi sehingga membutuhkan proses yang tidak singkat untuk merealisasikan program ini.

Program Listrik Desa menjadi salah satu komitmen pemerintah mewujudkan 100 persen desa teraliri listrik pada tahun 2019 sebagaimana PLN menjadi satu-satunya BUMN yang menyukseskan program ini. Terlebih program ini semakin digenjot terutama pada kawasan-kawasan prioritas seperti Kawasan Danau Toba sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Sumatra Utara.



bersama warga pemilik rumah 







Eksplor Tanjung Pura, Langkat, Sumatra Utara

September 17, 2018 4



Di hari senin yang cerah tanggal 10 september saya dan teman saya Hardi berencana sudah seminggu yang lalu untuk bepergian eksplor tanah melayu, Langkat, khususnya Tanjung pura, kenapa karena ada ikon terkenal disana sebut saja Masjid Azizi, masjid peninggalan sultan langkat yang berkebangsaan melayu yang dibangun pada tahun 1902.  Terus saya juga dapat undangan pesta dari teman saya yang kebetulan lokasi pestanya di Tanjung pura, what a blessing,,,
Maka kita mulailah petualangan dengan susun rencana untuk berjumpa, Nah berikut kita runut darimana saja perjalanan ini dimulai.

1. Stasiun Kereta Api Medan

Awal mula perjalanan kami, saya yang dari Medan memulai siap-siap pada pagi hari yaitu pukul 7 pagi sudah berada di stasiun besar medan, tenang, tidak ada jurusan kereta api dari Medan ke Langkat, tapi saya berhenti di stasiun kota Binjai, dari Binjai saya dijemput teman saya Hardi, yang kebetulan dari rumahnya staiun KA Binjai lebih dekat, dan dari situ kami eksplor naik motor berdua.

pintu depan, pintu masuk stasiun Medan

pembelian tiket dari medan-binjai cukup datang ke counter/loket 1 sudah mulai dibuka setiap hari dari jam 5 pagi
langsung dapat tiket dengan harga hanya lima ribu rupiah

bisa juga cetak e-ticket dari mesin itu untuk perjalanan yang lebih jauh atau tiket yang sudah dibooking dari aplikasi KAI
langsung masuk kedalan ruang tunggu setelah di scan tiket oleh petugas


2. Stasiun KA Binjai 

Perjalanan naik KA dari Medan menuju Binjai, cukup setengah jam maka pada pukul 8.30 wib saya sudah sampai di stasiun yang masih mempertahankan bentuk asli bangunan dari zaman belanda ini, maka tak salah bila stasiun ini menjadi cagar budaya milik kota Binjai. Sambil menunggu Hardi menjemput saya duduk sambil buka sosmed, di depan stasiun ada tempat duduk untuk menunggu, sayang para tukang becak agak rusuh menawarkan jasa transport nya kepada penumpang yang baru turun atau keluar dari KA.


penakan depan dari stasiun
       menjadi salah satu bangunan cagar budaya

3. Kota Stabat

Pemberhentian kami selanjutnya setelah di KA Binjai adalah kota Stabat yang merupakan ibukota dari Kabupaten Langkat, untuk memenuhi hasrat berfoto, kami singgah di gedung balai pertemuan masyarakat melayu yang berada di pusat kota stabat, gedungnya mirip sekali dengan istana atau rumah kebanggan masyarakat melayu dengan ornamen dan warna dominan kuning, saya sendiri tak juga lupa untuk mengambil beberapa foto di sini.

Dilihat dari bentuknya, gedung yang mempunyai 2 lantai ini mempunyai fungsi sebagai tempat masyarakat Melayu berkumpul untuk membicarakan hal-hal penting terkait adat dengan para pengurus atau tetua adat yang dihormati dengan menjunjung tinggi adat istiadat serta melestarikan buadaya Melayu khususnya di wilayah Langkat. 





Gedung ini berada di belakang dari gedung balai pertemuan
setelah puas dengan foto-foto kami pun melanjutkan perjalanan langsung ke Tanjung pura yang merupakan kota kecamatan dari kabupaten Langkat, melewati jalan utama lintas sumatra-aceh, dipinggir kanan-kiri kecamatan hinai sebelum masuk ke tanjung pura ada penjual jambu madu yang manis kami pun berhenti untuk membeli secukupnya untuk mengisi kekosongan perut, karna hari beranjak siang yaitu pukul 10.45 siang, hingga sampailah kami di Tanjung pura. 

3. Tanjung Pura

Setelah memasuki gerbang dengan tulisan Selamat Datang di Tanjung Pura, kami pun langsung ke objek utama tujuan yaitu masjid Azizi, ternyata masjid ini luar biasa indahnya, dominan berwarna kuning dengan dihiasi nuansa hijau, menara tinggi serta ada pemakaman sultan/raja atau pahlawan nasional T. Amir hamzah. Datang ke objek ini cocok sekali bagi yang ingin wista religi atau ziarah apalagi pada musim bulan puasa atau libur lebaran, karena bakalan ramai sekali orang-orang yang datang.





tampak samping



menara tinggi disamping masjid

makam para sultan

mimbar yang tinggi

pintu masjid dari depan

jendela dengan hiasan kaca mozaik


Dari bentuk dan konsep masjid-masjid tua atau peninggalan kerajaan melayu di Sumatra Timur punya ciri yang hampir sama seperti dominasi cat berwarna kuning dan hijau, hiasan ornamen atau kaligrafi seperti perpaduan dari Turki dan Arab serta kubah besar berwarna hijau gelap bahkan seperti hitam. untuk lihat bagaimana isi dalam masjid ini, bisa cek di video berikut.





4. Kedai Kopi Restu

Puas mendokumentasi si Masjid, hari sudah terik artinya perut kami juga mulai keroncongan, jalan lurus, mengikuti jalan sudirman tanjung pura, terlihat sisi kanan ada pemandangan lazim, sepanjang itu rumah-rumah toko/ruko zaman dahulu berjejer sama bentuk, rumah-rumah ini biasa kita jumpai di berbagai daerah Sumatra Timur, seperti di Galang, Lubuk Pakam, Tebing tinggi,  Pancur batu, Tanjung Pura sampai waktu saya ke Penang dan Malaka juga ada, tak lain di pusat kota Medan sendiri seperti kawasan jalan hindu dan Kesawan, hal ini menunjukkan bahwa hunian Pecinan ini berekspansi ke jantung kota menandakan maju nya pergerakan ekonomi suatu tempat/kota, juga mempunyai pola yang sama dalam hidup, menurut hemat saya ya disitu rumah ya disitu juga tempat usaha. Mungkin kawan-kawan ada yang tahu lagi dimana bisa menjumpai rumah-rumah seperti dibawah ini.


masih tampak sepi karna belum masuk ke area pasar
kedai kopi legendaris

tampak depan, sudah ada gerobak mi rebus yang menggugah selera

masuk kedalam, sebelah kanan etalase soto dan kiri etalase roti
paling belakang adalah station bar, alias tempat meracik minuman, apalagi kalau bukan kopi dan teman-temannya
Begitu kami sampai, langsung memesan menu seperti foto dibawah, ini adalah menu ringan ala kami, mungkin sudah banyak blogger kota medan yang mengulasnya, iya kedai kopi ini begitu tersohor namanya dikalangan para pejalan lintas utara sumatra, terlebih di menu andalan mereka seperti roti bakar srikaya dan kopi susu nya, sayang karna kami terlalu cepat datang roti itu belum tersedia, jadi kami pesan yang sebangsanya saja, yaitu roti gulung tetap dengan isi selai srikaya, dan juga bukan penikmat kopi maka kami pilih es teh manis dan mi rebus udang seporsi, lumayan untuk mengganjal perut sebelum isi yang padat.

menu yang kami pesan

pengganti roti yang hits karna belum matang jadi pesan yang ini.
Ini adalah pengalaman terbaru bagi kami, setelah mencicipi suapan pertama mi rebus serta rotinya kami cuma bisa senyum dan nyengir, iyah karena menurut lidah saya dan Hardi, rasanya cuma BIASA saja, malah kesimpulan lidah saya di roti gulung tersebut seperti makan roti yang kurang mentega, membuat tenggorokan saya seret, dan mau minum saja. Yah mungkin beda orang beda selera, tak lama setelah itu kami pun membayar semua menu tadi, semuanya sekitar 51 ribu rupiah.

kami pun melanjutkan perjalanan menuju lokasi pesta teman saya itu, bye kedai kopi, next kalau ada tempat singgah yang lebih mantap lagi mungkin saya akan singgah.

5. Menuju Lokasi Pesta

Pukul 13.25 masih ada waktu untuk sholat zuhur, maka kami pun mencari mesjid, yah bila anda sedang dalam perjalanan naik bus dari medan-aceh maka akan melewati wilayah yang banyak mesjid-mesjid indah, saya berpikir akan mengganti kostum dan touch up sedikit supaya lebih rapi karna mau undangan.



masjid yang cantik

hiasan didalam kubahnya


rumah adat melayu yang dominan disekitar tanjung pura, posisi berada di sebelah mesjid, rata-rata mempunyai bentuk seperti rumah panggung dengan tangga berada di depan.

sampailah kami dilokasi pesta, ini adalah jalan masuk menuju rumahnya yang berada di balik mobil-mobil itu, ternyata lokasinya tak jauh dari masjid yang kami singgahi tadi.

ini dia pengantin perempuannnya adalah teman saya bernama Fina, sampai juga kaki melangkah ke tanjung pura 
Setelah makan enak di pesta yang kental dengan adat Melayu nya serta hiburan dengan musik dan biduan melayu, kami bergerak langsung pulang agar tak kemalaman saya sampai Medan, dari situ saya ganti kostum lagi biar nyaman di mesjid yang tadi, lalu arah pulang ke statsiun KA Binjai dan Hardi mengantar saya sampai kereta mau berangkat.



Terimakasih Langkat, Bersatu Sekata Berpadu Berjaya.







Tuesday, September 11, 2018

Berkunjung ke Rumah Hobbit Ala Tanah Karo

September 11, 2018 32



September ceria judulnya, bagaimana tidak saya dihadapkan dalam kondisi 2 bulan terakhir mengalami kondisi mental yang sedang down, tapi Tuhan maha baik, saya diberi kesempatan punya suami yang full support dalam treatment perbaikan diri, untuk itu banyak yang menyarankan kami berdua untuk menghabiskan waktu berduaan, menghirup udara segar paling tidak melepas penat sekejap dari stress kehidupan di rumah dan pekerjaan, kebetulan suami ber-ulangtahun dan dia cuti selama seminggu. 


Kami pun ambil waktu pada hari sabtu kemarin tanggal 8 september ke Tanah tinggi Karo tak perlu jauh dari kota Medan, mengingat tidak harus mahal untuk pelesiran, yah pilihan kami ke pemandian air panas Sidebu-sidebu, maksud hati agar rileks berendam air panas, tapi  pilihan tempat banyak sekali di sidebu-debu, tempat biasa yang kami datangi sudah tak lagi “enak” karna biasa saja, maka saya pun sebelum pergi malamnya searching bahwa ada pemandian air panas yang memberikan fasilitas tidak saja untuk berendam melainkan spot foto selfie yang instagramable, wah saya pun langsung tertuju pada foto-foto yang ada di "mbah gugel" itu ternyata ada rumah hobbit sebagai fasilitas utama foto di tempat itu.

Rindu Alam resort and hot spring.

Tempat ini menyajikan banyak fasilitas ternyata selain berendam, resort yang berada di kawah  gunung sibayak, tanah karo, Sumatra utara ini  makin ramai di malam hari. Kebetulan kami datang pada siang hari, agar tak terlalu pulang larut malam dan padat pengunjung, maklum kami naik motor berdua, sebelum sampai ke tujuan kami istirahat sebentar di Penetapan, yaitu tempat istirahat dimana sebelum masuk kabupaten Karo untuk istirahat sebentar untuk makan, minum ataupun toilet, warung-warung yang berjejer disebelah kiri menyajikan outdoor yang luar biasa indah, yaitu hamparan bukit-bukit nan hijau serta pemandangan ke gunung Sibayak langsung, makan jagung bakar dan minum teh panas sebentar, bahkan bisa melihat monyet yang berkeliaran langsung di dekat warung-warung itu, tak lama gerimis pun turun, kami juga harus cepat-cepat beranjak agar tak lama di Penatapan. Kami pun berkendara belok kanan sebelum kota Brastagi dan masuk ke Lau sidebu-debu, akhirnya sampailah kami di Rindu Alam resort, sebelum masuk kami diminta tiket per orang 15 ribu rupiah, itu sudah include semua, kecuali makan minum dan fasilitas penginapan.

Fasilitas Rindu Alam Resort

1.       Penginapan
2.       Pemandian berendam air panas belerang
3.       Kantin
4.       Toilet dengan air tawar
5.       Kolam renang air tawar serta seluncuran
6.       Spot foto selfie, rumah hobbit, rumah gerobak dll
7.       Parkir luas
8.    Aula rumah joglo


b   Begitu masuk, parkirkan motor disebelah kiri ada pintu masuk ke kantin serta kolam berendam air panas, seperti foto dibawah ini, kami tidak langsung pergi berendam melainkan foto-foto dahulu. Setelah berkeliling kami pun bersiap masuk ke kolam perendaman, mengobrol dan mencoba bernostalgia kembali, sambil berendam dengan kedekatan yang privasi meurut kami ternyata cara ini cukup berhasil, udara dingin menjernihkan pikiran, sepanjang hari kami senyum terus.
h   

pintu masuk

kantin
kolam-kolam berisi air hangat bukan panas menurut kami yang disediakan tidak terlalu besar, kecil-kecil cocok untuk kami yang ingin berduaan tanpa diganggu orang lain
aula joglo, di depan dari pintu masuk kantin td
itu penampakan kelas kelas penginapan nya, lihat juga latar belakang nya
Oh ya resort ini sebenarnya cocok sekali untuk outing acara kantor, berfungsi juga seperti mess karna dilengkapi aula dan kamar-kamar berbagai tipe, sayang kami tak memutuskan untuk menginap, karna harga rate kamar seharga 350rb/malam untuk kamar tipe standart nya termasuk lumayan menguras kantong.

rumah mini






masuk kedalam ternyata cuma dinding


bunga disekitaran taman rumah hobbit

Lokasi Rindu Alam Resort

Jl. Medan - Berastagi, kabupaten Karo, Lau debu-debu, masuk ikuti jalan ada baliho besar di sebelah kiri ada gapura tulisan rindu alam, langsung ke pintu masuk.

Akhirnya kami memutuskan untuk pulang pada pukul 5 sore dan mencoba makan dikantin, maklum udara dingin membuat kami lapar, pesan menu yang standart seperti nasi ayam penyet dan teh hangat, untuk rasa ya biasa saja, harga juga lumayan karna ini objek wisata. Pas pulang hari gerimis deras, dan sampai rumah sudah jam 8 malam.


Sekian cerita saya, selamat liburan.