Sawasdee kha! 👋
Banyak tempat seru yang bisa dikunjungi di Hat Yai. Kalau diperhatikan, turis yang datang ke kota ini memang didominasi orang Malaysia. Wajar saja sih, jaraknya dekat dan akses dari Malaysia juga gampang. Bisa naik kereta api, bus, bahkan kendaraan pribadi.
Mereka biasanya datang untuk kulineran karena pilihan makanan halal di Hat Yai cukup banyak dan memang enak-enak. Belum lagi urusan belanja jajanan, pakaian, skincare sampai kebutuhan sehari-hari. Nilai mata uang Thailand yang lebih rendah dibandingkan Ringgit Malaysia juga membuat belanja di sini terasa lebih menyenangkan.
Anyway, sebagai Indonesian yang tiba-tiba kepikiran mau solo traveling ke Hat Yai, terus selama di sana saya ngapain saja?
Sebelum berangkat, tentu saja saya menyusun itinerary dulu. Setelah riset seadanya lewat Google, Google Maps dan TikTok, saya malah tertarik mencari tempat-tempat yang sedikit anti-mainstream.
Entah kenapa saya senang sekali datang ke pasar lokal.
Bukan cuma tempat wisata cantik, saya justru suka melihat pasar, memperhatikan orang lokal berbelanja, mencari makanan yang belum pernah saya coba, sampai menemukan barang-barang random yang kadang tidak ada di itinerary.
Tapi ke kuil atau wat tetap ada dong.
Jadi, inilah perjalanan saya selama tiga hari eksplor Hat Yai.
DAY 1 — Floating Market, Mall dan Night Market
| makanan yang saya beli |
Begitu sampai di Hat Yai, saya langsung check-in ke hotel, letak barang, istirahat sebentar lalu berangkat lagi.
Tujuan pertama adalah Khlong Hae Floating Market.
Pasar terapung ini dipenuhi jajanan dan makanan lokal. Vibes lokalnya masih terasa, walaupun turis yang datang juga cukup banyak.
Salah satu yang khas di sini adalah minuman yang dikemas dalam bilah bambu dan dihias dengan bunga kecil.
Estetik kan ya?
Harganya sekitar 30 Baht saja.
Tentunya beli dong. 😆
Suasana pasar cukup riuh karena Khlong Hae Floating Market hanya buka pada weekend, yaitu Jumat, Sabtu dan Minggu, sekitar pukul 13.00 sampai 21.00.
Selain makanan, ada juga area yang menjual pakaian, aksesori dan berbagai barang yang bisa dijadikan oleh-oleh.
Puas jajan, foto dan ambil video sana-sini, saya kemudian beranjak menuju Central Hat Yai.
Katanya kalau ke Hat Yai, tempat ini termasuk destinasi wajib.
Terus apa sih isi mall ini sampai begitu happening?
Tak lain dan tak bukan, ada beberapa store yang memang sering menjadi tujuan orang belanja, bahkan untuk jastip. Hahaha.
Salah satunya Gentlewoman, brand fashion Thailand yang terkenal dengan tas-tasnya yang ikonik. Ada juga Boots yang punya banyak pilihan body care dengan harga menarik, serta Beautrium yang bisa dibilang surganya makeup dan skincare lokal Thailand.
Nah, lantai makanannya juga bahaya.
Surga makanan!
Kalau tidak ingat perut cuma satu, mungkin semua ingin dicoba.
Bayangkan, sushi mulai dari sekitar 10 Baht, dan ada salmon juga. Hahaha.
Setelah puas window shopping dan menahan diri supaya tidak kalap, saya lanjut lagi.
Hari mulai menjelang malam dan tujuan berikutnya adalah Lee Garden Night Market.
Ini juga salah satu pasar malam yang cukup touristy. Berbagai macam barang dijual di sini, tetapi tentu saja perhatian saya kembali tertuju pada...
street food!
Jalan, lihat-lihat, jajan lagi.
Begitulah.
Setelah merasa cukup untuk hari pertama, saya kembali ke hotel untuk istirahat. Besok masih panjang.
DAY 2 — Sarapan Bubur, Kuil dan Melihat Hat Yai dari Atas Bukit
Pagi-pagi saya berniat sarapan di salah satu breakfast spot terkenal yang saya temukan dari rekomendasi TikTok.
Namanya Mue Coh.
Lokasinya tidak jauh dari hotel, tapi ketika sampai ternyata sudah terlalu padat.
Okay, next.
Saya akhirnya masuk ke restoran di sebelahnya bernama Kruun.
Dan ternyata...
buburnya enak banget!
Kebetulan bubur memang salah satu makanan favorit saya.
My comfort food.
Jadi pagi itu dimulai dengan cukup membahagiakan. Hahaha.
Setelah kenyang, saya langsung pesan Grab menuju destinasi selanjutnya, yaitu Wat Khok Saman Khun.
Kuil ini buka sekitar pukul 08.30 pagi dan tiket masuknya waktu saya datang sekitar 60 Baht.
Karena saya datang weekday, tepatnya hari Senin, suasananya sepi sekali.
Tamunya?
Cuma saya.
Serasa kuil pribadi. 😂
Puas foto dan mengambil video. Sedikit menyesal karena tidak memakai baju tradisional Thailand, pasti hasil fotonya lebih cantik.
Tapi tak apalah.
Sekitar setengah jam eksplor sudah cukup karena bahkan pukul 9 pagi saja matahari Hat Yai sudah sangat terik.
Saya kemudian menuju Hat Yai Municipal Park.
Tamannya luas, bersih dan cantik. Saat saya datang, tidak ada biaya masuk.
Karena lokasinya berada di kawasan perbukitan, tersedia shuttle bus untuk membawa pengunjung ke bagian atas.
Bentuknya mirip odong-odong kalau menurut saya mah. 😆
Bayarnya sekitar 20 Baht.
Hat Yai Municipal Park juga punya cable car. Sayangnya, ketika saya datang cable car sedang tidak beroperasi karena hari Senin.
Tak masalah.
Saya memilih duduk santai sambil menikmati pemandangan Kota Hat Yai dari atas.
Ada cafe juga di sana.
So, saya leyeh-leyeh dulu sekitar satu jam.
Tidak semua traveling harus berlari dari satu destinasi ke destinasi lainnya kan?
Kadang duduk, minum, melihat kota dari kejauhan juga bagian dari perjalanan.
Makan Siang di Kim Yong Market
Turun dari taman, perut mulai memberi sinyal.
Tujuan saya berikutnya adalah mencari makanan khas di sekitar Kim Yong Market, yaitu nasi Kai Tod Meena.
Nasib baik, tidak sulit menemukannya.
Lihat saja tempat yang antreannya paling ramai. Hahaha.
Nasinya harum rempah dengan berbagai lauk gorengan, terutama ayam gorengnya.
Cuaca hari itu panas luar biasa sampai wajah saya terasa terbakar.
Setelah makan siang dan minum jus semangka dingin yang menyegarkan, tenaga kembali terisi dan saya mulai eksplor Kim Yong Market.
Menurut saya, pasar ini cocok untuk mencari oleh-oleh.
Banyak sekali produk makanan, kacang-kacangan, snack dan berbagai barang lainnya dengan harga relatif murah.
Saya menemukan salah satu kacang favorit saya:
Macadamia!
Wuihhh...
Murah niaaannnn! 😂
Setelah cukup lama berjalan dan badan mulai menyerah karena kepanasan, saya memutuskan kembali ke hostel.
Rehat dulu.
Nanti malam kita keluar lagi.
ASEAN Night Bazaar dan Menemukan Pasar Lokal Favorit Saya
Malam tiba dan saya kembali keluar.
Kali ini menuju ASEAN Night Bazaar.
Pasar ini memang cukup terkenal di kalangan wisatawan. Mungkin karena banyak pengunjung dari Malaysia, cukup banyak penjual di sini yang bisa berbahasa Melayu.
Saya datang untuk melihat-lihat sekaligus mencari barang titipan.
Lumayanlah...
Cuci mata sambil mencari makanan viral. 😆
Tapi saya tidak terlalu lama di sini.
Setelah mendapatkan barang yang dicari, saya langsung menghilang dan berpindah ke pasar lain.
Nah, pasar berikutnya justru lebih menarik bagi saya.
Namanya Florida Night Market, berada di belakang Florida Hotel.
Ini pasar malam yang terasa jauh lebih lokal.
Dan menurut pengalaman saya, harganya juga lebih murah dibanding beberapa night market lain yang saya datangi.
Jajanan lokalnya banyak sekali.
Saya mencoba beberapa makanan, makan langsung di tempat, foto-foto dan menikmati suasananya.
Kalau kalian ingin merasakan sisi Hat Yai yang lebih lokal, Florida Night Market masuk rekomendasi saya.
Setelah kenyang dan kaki mulai meminta pulang, saya kembali ke hostel.
Rehat.
DAY 3 — Berburu “Harta Karun” di Pasar Loak Hat Yai
Pagi terakhir di Hat Yai saya habiskan dengan mengunjungi tempat yang justru menjadi salah satu favorit saya selama perjalanan ini.
Yanyong Market.
Ini flea market atau pasar barang secondhand yang cukup besar di Hat Yai.
Kalau kamu suka thrifting atau berburu barang-barang unik, tempat seperti ini menyenangkan sekali.
Ada pakaian, tas dan berbagai barang random yang bisa ditemukan dengan harga murah.
Dan...
bisa tawar-menawar!
Kalau lapar, ada juga pedagang makanan lokal dengan gerobak-gerobak kecil di sekitar pasar.
Ketika pertama kali berjalan di sini, saya malah merasa seperti sedang datang ke Pasar Sambu di Medan.
Hahaha.
Familiar banget!
Karena harganya murah dan ternyata banyak barang bagus, saya berhasil mendapatkan beberapa baju dan sebuah tas.
Total belanja saya?
Cuma sekitar 140 Baht.
Hahahaha.
Rasanya seperti menemukan harta karun.
Inilah kenapa saya suka datang ke pasar lokal saat traveling. Kita tidak pernah tahu apa yang akan ditemukan.
DAY 4 — Wajib ke 7-Eleven, dan Souvenir Shop
Sebelum pulang di hari terakhir saya menuju convenience store paling wanted kalau sedang traveling di Thailand.
Apalagi kalau bukan...
| barang random heheh |
7-Eleven!
Salah satu yang saya cari adalah burger halal dalam kemasan yang menurut saya enak dan praktis.
Saya membeli beberapa burger dan roti untuk bekal perjalanan pulang.
dan kebetulan pas tepatnya posisi souvenir shop di depan hostel, sebelum angkat koper saya singgah di toko oleh-oleh yang besar dan lengkap, yaitu Thanyada, saya beli beberapa barang kecil untuk oleh-oleh.
Karena perjalanan saya masih panjang.
Dari Hat Yai, saya harus kembali menuju Padang Besar, kemudian melanjutkan perjalanan dengan kereta menuju Butterworth, Penang Sentral.
| stasiun kereta api hat yai |
Tak lama kemudian saya kembali ke penginapan, mengambil barang, memastikan tidak ada yang tertinggal, lalu memesan Grab menuju Hat Yai Junction.
Tiket kereta menuju Padang Besar saya beli secara manual.
Kereta bergerak.
Hat Yai perlahan saya tinggalkan.
Sampai Padang Besar, perjalanan dilanjutkan lagi menggunakan kereta menuju Butterworth.
Dan...
selesailah perjalanan solo traveling saya di Hat Yai.
Empat Hari yang Mungkin Akan Saya Ingat Seumur Hidup
| kuil yang berada dekat floating market |
Mungkin bagi sebagian orang, empat hari itu sebentar.
Buat saya, perjalanan ini menjadi salah satu momen yang akan saya ingat dalam waktu lama.
Entah kapan saya akan kembali lagi ke Hat Yai.
Justru karena itulah saya begitu semangat menuliskan apa saja yang saya lihat, makan, beli dan rasakan selama perjalanan solo ini.
Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil datang ke kota yang sebelumnya hanya saya lihat lewat layar handphone.
Menyusun itinerary sendiri.
Naik kereta sendiri.
Mencari jalan sendiri.
Masuk pasar sendiri.
Makan sendiri.
Kadang kepanasan, kadang kelelahan, tapi tetap excited melihat tempat baru.
Pada akhirnya, mungkin itulah alasan saya masih suka traveling.
Bukan sekadar untuk mengumpulkan berapa banyak kota atau negara yang sudah pernah didatangi.
Tapi untuk mengumpulkan cerita.
Karena perjalanan selesai ketika kita pulang.
Tapi ceritanya bisa tinggal jauh lebih lama.
Sampai jumpa di Cerita Jalan berikutnya.
Bye, Hat Yai. Sawasdee kha!
Desy Zulfiani
Cerita Jalan

Tidak ada komentar:
Terimakasih sudah memberi komentar dengan sopan