Hat Yai: Destinasi Wisata Alternatif di Thailand Selain Bangkok


Sawasdee kha! 👋

Sudah lama rasanya saya tidak menulis kisah perjalanan lagi di blog ini. Entah kenapa, tahun ini tiba-tiba terpikir untuk pergi ke Thailand. Tapi, kali ini saya tidak mau yang mainstream seperti Bangkok dan kota-kota wisata lainnya.

Lucunya, setelah cukup lama tinggal di negara tetangga, Malaysia, kok justru sekarang, setelah tidak tinggal di sana lagi, saya baru kepikiran untuk menjelajah Thailand. Ya sudahlah, namanya juga manusia. Kadang tempat yang dekat justru baru kita datangi setelah sekian lama. 😆

Karena sampai sekarang saya masih cukup sering bolak-balik ke Malaysia, entah itu Kuala Lumpur ataupun Penang, yang notabene menjadi salah satu destinasi luar negeri paling murah dan mudah dijangkau dari Medan, tahun ini saya kembali punya agenda kecil: eksplorasi tempat baru.

Dan kali ini pilihan saya jatuh kepada...

Hat Yai, Thailand.

Sebuah kota yang akhirnya saya putuskan untuk jelajahi sendirian.

Solo traveling? Yes!

Hhehe.

Bagaimana Saya Memulai Perjalanan ke Tempat yang Belum Pernah Saya Datangi?

Kalau saya ingin traveling ke tempat baru yang belum pernah saya datangi sebelumnya, biasanya saya tidak langsung booking tiket lalu berangkat.

Saya riset dulu.

Riset kecil-kecilan, tapi cukup detail.

Di zaman yang serba canggih seperti sekarang, tools yang paling sering saya gunakan sebenarnya sederhana saja. Tidak muluk-muluk.

Google, Google Maps, dan TikTok. 😂

Dari sana saya biasanya mencari tahu beberapa hal penting:

Bagaimana cara pergi ke sana dengan biaya yang murah dan mudah?

Tempat apa saja yang worth it untuk dikunjungi?

Berapa jarak antar tempat?

Bagaimana transportasinya?

Di mana sebaiknya menginap?

Dan yang paling penting...

Berapa budget yang harus disiapkan?

Karena traveling itu bukan cuma soal mau pergi ke mana, tapi juga soal bagaimana caranya supaya setelah pulang kita tidak menangis melihat saldo rekening. Hahaha.

Kenapa Hat Yai?

Ada beberapa alasan kenapa akhirnya saya memilih Hat Yai sebagai destinasi solo traveling kali ini.

1. Bisa ditempuh lewat darat dari Malaysia

Ini salah satu alasan paling masuk akal.

Hat Yai cukup mudah dijangkau dari Malaysia dan biayanya relatif murah. Saya pun memilih menggunakan kereta api untuk perjalanan kali ini.


Buat saya, perjalanan menggunakan kereta justru punya pengalaman tersendiri. Lebih santai, bisa melihat suasana sekitar, dan tentunya pengalaman menyeberang dari Malaysia menuju Thailand dengan jalur darat itu sendiri sudah menjadi bagian dari cerita perjalanan.

2. Muslim-friendly

Ini penting.

Sebagai traveler Muslim, saya tentu mempertimbangkan makanan halal, tempat salat, sampai fasilitas toilet.

Di Hat Yai, makanan halal cukup mudah ditemukan. Toilet juga masih banyak yang menyediakan bidet air.

This is important! 😂

Prayer room juga relatif mudah ditemukan, terutama di area-area tertentu.

Jadi buat saya, traveling ke sini terasa cukup nyaman.

3. Barang-barangnya bagus dan relatif murah

Kalau bicara Thailand, salah satu hal yang menarik tentu saja belanja.

Banyak produk yang menarik, mulai dari fashion, makanan, kosmetik, skincare, body care sampai oleh-oleh.

Dan beberapa barang masih bisa ditawar.

Nah, kalau sudah masuk mode belanja, saya biasanya harus mulai mengingatkan diri sendiri:

"Desy, kita ke sini untuk traveling, bukan pindahan." 😂

4. Wisata kuliner dan belanja yang menarik






Hat Yai punya banyak pilihan kuliner lokal dan pasar malam.

Street food-nya juga menarik.

Saya pribadi justru suka suasana seperti ini. Jalan kaki, melihat orang lokal beraktivitas, mencium aroma makanan dari berbagai penjuru, lalu berhenti ketika menemukan sesuatu yang menarik.

Local vibes seperti ini yang saya cari.

5. Ada GrabBike

Nah, ini juga sangat membantu buat solo traveler seperti saya.

Kalau bepergian sendirian, menggunakan transportasi yang praktis dan tidak terlalu mahal tentu menjadi pertimbangan.

Dengan adanya GrabBike, saya jadi lebih mudah berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa harus terlalu bergantung pada transportasi umum.

6. Sebagian warga lokal bisa berbahasa Melayu

Ini juga menjadi salah satu keuntungan tersendiri.

Di beberapa tempat, saya menemukan warga lokal yang bisa berkomunikasi dalam bahasa Melayu.

Buat traveler dari Indonesia yang cukup familiar dengan bahasa Melayu, tentu terasa lebih mudah untuk berkomunikasi.


Hat Yai dan Slow Living-nya

Hat Yai adalah kota yang cukup besar, tetapi bagi saya masih memiliki sisi slow living yang menarik.

Ada suasana kota yang hidup, tetapi tidak terasa terlalu terburu-buru.

Saya bahkan menemukan informasi bahwa anak-anak sekolah di beberapa tempat memulai aktivitas sekolah sekitar pukul 9 pagi.

Oh iya, waktu Thailand juga sama dengan waktu Indonesia bagian barat, yaitu GMT+7.

Jadi tidak perlu repot-repot mengubah jam ketika tiba di Thailand.

Menjelang sore, suasana kota mulai berubah.

Sekitar pukul 5 sore, beberapa ruas jalan mulai lebih ramai. Orang-orang mulai pulang, kendaraan semakin banyak, dan pasar malam mulai hidup.

Dan inilah salah satu hal yang paling saya suka dari Hat Yai:

Night market.

Ada beberapa night market yang saya datangi selama berada di kota ini.

Sebagian besar menjual makanan lokal, jajanan street food, pakaian, oleh-oleh dan berbagai macam barang lainnya.

So, temptation?

Sayaaaa sukaaaa! 😂


Kosmetik, Skincare dan Body Care: Godaan Lain di Hat Yai

Ada satu lagi yang menurut saya cukup sulit dihindari kalau datang ke Hat Yai.

Belanja kosmetik, skincare dan body care.

Banyak sekali store yang menjual produk-produk tersebut, baik di mall maupun convenience store seperti 7-Eleven dan Watsons.

Yang menarik, banyak produk tersedia dalam ukuran mini atau travel size.

Buat traveler seperti saya, ini sebenarnya sangat membantu.

Kita bisa membeli produk sesuai kebutuhan tanpa harus membawa ukuran besar.

Tapi tetap saja...

Kalau sudah melihat rak skincare berjejer rapi, niat awalnya cuma mau melihat-lihat.

Lalu tiba-tiba sudah masuk keranjang.

Hahaha.


Jadi, Apakah Hat Yai Worth It?

Kalau kamu suka local vibes, tidak terlalu mengejar destinasi yang dipenuhi turis internasional, dan lebih suka traveling dengan suasana santai, Hat Yai menurut saya bisa menjadi pilihan yang menarik.

Selama 4 hari 3 malam berada di Hat Yai, saya benar-benar merasa puas.

Hampir semua tempat yang sudah saya masukkan ke dalam itinerary bisa saya kunjungi tanpa kendala berarti.

Thank God, you really supported me. 🤍

Cuacanya juga cukup bersahabat.

Siang hari cerah dan panas, tetapi menjelang sore hujan bisa datang tiba-tiba.

Jadi, kalau kamu tipe traveler yang suka berjalan kaki seperti saya, Hat Yai juga bisa menjadi pilihan.

Apalagi kalau memilih hotel di sekitar pusat kota, dekat pasar atau stasiun kereta api.

Banyak tempat yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Dan buat saya, justru di situlah serunya.

Karena terkadang perjalanan terbaik bukan ketika kita tiba di sebuah destinasi, tetapi ketika kita berjalan tanpa terlalu terburu-buru, melihat kehidupan lokal dari dekat, menemukan toko kecil yang tidak ada di itinerary, mencoba makanan yang sebelumnya tidak pernah kita kenal, lalu berkata dalam hati:

"Oh, ternyata tempat ini menarik juga."



Tips Traveling Ala Saya Sewaktu ke Hat Yai

Sebelum saya tutup cerita perjalanan Hat Yai ini, saya mau kasih sedikit tips traveling ala saya. Bukan tips yang terlalu serius, tapi berdasarkan pengalaman saya sendiri selama 4 hari 3 malam menjelajah Hat Yai sendirian.

1. Pakai pakaian yang simple dan nyaman

Hat Yai cukup panas, terutama kalau kamu banyak berjalan kaki.

Jadi saya lebih memilih pakaian yang simple, mudah menyerap keringat, dan gampang di-mix and match.

Tidak perlu membawa terlalu banyak outfit. Yang penting nyaman, karena kalau sudah mulai jalan kaki dari pagi sampai sore, percayalah... kenyamanan jauh lebih penting daripada OOTD. 😂

2. Sepatu atau sandal yang nyaman itu wajib!

Ini very important.

Kalau kamu suka eksplorasi dengan berjalan kaki seperti saya, jangan hanya memikirkan sepatu yang bagus untuk difoto.

Pastikan juga nyaman dipakai berjalan jauh.

Sandal atau sepatu yang ringan dan nyaman akan menjadi sahabat terbaik selama traveling.

Karena itinerary boleh padat...

Tapi kaki tetap harus diajak kompromi. Hahaha.

3. Jangan lupa e-SIM

Untuk urusan internet, saya menggunakan e-SIM yang dibeli melalui aplikasi Trip.com.

Praktis karena setelah sampai di Thailand, internet bisa langsung digunakan tanpa perlu repot mencari SIM card fisik.

Buat solo traveler, koneksi internet menurut saya adalah salah satu hal yang wajib diprioritaskan.

Google Maps? Butuh.

Pesan transportasi? Butuh.

Cari restoran halal? Butuh.

Mau upload story? Jelas butuh! 😂

4. Bawa Ringgit Malaysia untuk ditukar di Thailand

Karena perjalanan saya ke Hat Yai dilakukan melalui Malaysia, saya membawa cash dalam Ringgit Malaysia dan kemudian menukarkannya ke Baht Thailand.

Saya juga menyisakan sedikit saldo di GoPay untuk kebutuhan pembayaran cashless.

Menurut pengalaman saya, fitur pembayaran seperti ini cukup membantu karena saldo bisa langsung dikonversikan ke mata uang setempat ketika melakukan pembayaran di merchant yang mendukung.

Tapi tetap ya, saya menyarankan untuk tetap membawa uang tunai.

Jangan bergantung 100% pada cashless.

Namanya juga traveling, kita harus punya plan B.

5. Payung, topi dan sunglasses jangan dilupakan

Cuaca Hat Yai bisa panas sekali.

Dan yang lebih tricky, hujan juga bisa datang tiba-tiba menjelang sore.

Jadi buat saya:

Payung = wajib.

Kalau tidak mau membawa payung ke mana-mana, minimal bawa topi dan sunglasses.

Selain melindungi dari panas, tentu saja bisa membantu sedikit mempercantik penampilan saat foto. Hehehe.

6. Yang paling penting: bawa hati yang gembira!

Nah, ini sebenarnya tips traveling paling penting versi saya.

Pergilah dengan hati yang gembira.

Karena kita datang untuk eksplorasi, bukan untuk mencari kesempurnaan.

Kadang cuaca panas.

Kadang hujan.

Kadang tersesat.

Kadang tempat yang kita datangi ternyata biasa saja.

Tapi justru dari hal-hal kecil seperti itulah biasanya cerita perjalanan muncul.

Jadi...

bawa hati yang happy, pikiran yang terbuka, dan jangan lupa menikmati perjalanan. 🤍


Sedikit Cerita Tentang Orang Lokal di Hat Yai

Satu hal yang cukup saya sukai selama berada di Hat Yai adalah interaksi dengan masyarakat lokalnya.

Saya tidak merasakan tipe penjual yang terlalu memaksa pembeli.

Buat saya, ini menyenangkan.

Saya suka ketika kita bisa melihat-lihat barang dengan santai, bertanya harga, menawar kalau memungkinkan, lalu memutuskan membeli atau tidak tanpa merasa dikejar-kejar oleh penjual.

Ada rasa nyaman di situ.

Dan saya juga melihat bagaimana masyarakat lokal cukup menjaga adab dalam berinteraksi.

Namun, namanya traveling, tetap harus berhati-hati ya, kawan.

Jangan karena merasa aman lalu kita menjadi lengah.

Barang berharga tetap dijaga, tas tetap diperhatikan, dan jangan meninggalkan barang sembarangan.

Karena prinsip saya sederhana:

Traveling itu harus happy, tapi tetap aware.


Jadi... Siapa yang Mau Ikut ke Hat Yai?

Nah, bagaimana?

Ada yang ingin mencoba perjalanan ke Hat Yai dengan jalur yang saya pilih?

Kalau ada, tunggu tulisan berikutnya ya.

Saya akan spill satu per satu tempat yang saya kunjungi selama 4 hari 3 malam di Hat Yai, mulai dari perjalanan naik kereta dari Malaysia, tempat menginap, night market, kuliner, tempat belanja, sampai berapa budget yang saya keluarkan selama solo traveling di sana.

Karena seperti biasa...

Cerita perjalanan saya bukan cuma tentang sampai di tujuan, tapi juga tentang bagaimana perjalanan itu membawa saya menemukan cerita baru.

Semoga tulisan ini bisa membantu kamu yang sedang merencanakan perjalanan ke sana.

Sampai ketemu di cerita perjalanan berikutnya.

Salam jalan-jalan,
Desy Zulfiani
🌏✈️

Hat Yai: Destinasi Wisata Alternatif di Thailand Selain Bangkok Hat Yai: Destinasi Wisata Alternatif di Thailand Selain Bangkok Reviewed by Ceritajalan.com on Agustus 24, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Terimakasih sudah memberi komentar dengan sopan

Diberdayakan oleh Blogger.