Friday, September 21, 2018

Perjalanan HIjrah Menuju Istiqomah

ceritajalan.com Di Yogyakarta




Iman manusia selalu diuji, bisa naik bisa turun, siapalah saya yang seorang perempuan pula, punya mood baik dan tidak, kadang muncul kata-kata sok bijak, kadang nynyir di medsos. 

Proses hijrah termasuk keputusan berat, ada beban didalamnya, menyangkut nama Agama Islam yang saya anut, ketika saya mengkaji bahwa menutup aurat itu wajib bagi Wanita muslim maka sejak sekolah SMA saya sudah berhijab dengan frekuensi tutup botol, hingga kuliah juga kalau mood jilbab dipakai kadang dibuka, hingga akhirnya saya menikah memakai hijab keluar rumah sudah mantap, tapi ke warung sebelah masih pakai celana pendek, ajaran siapa ini.


Ketika mengkaji kitab suci Al-quran dan mengkerucut ke satu surah An-nisa yang membahas semua permasalahan hukum wanita dan ini wajib, mulailah saya tahu bahwa ada perbedaan mahram mana yang boleh melihat aurat saya dan mana yang tidak termasuk bersentuhan kulit, tapi ini berjalan hanya sementara.

Kenapa, pergaulan saya yang senang dan hobi dengan komunitas yang masih campur aduk wanita dan pria, serta cara berbicara saya yang blak-blakan bahkan terkesan kurang ajar, atau mulut saya yang tidak bisa di rem ini kalau tertawa masih terbahak-bahak.  Saya kadang berfikir "ah yang penting kan hatinya ga busuk, ga munafik, ga negatif thinking" hal inilah yang membuat saya masih dipercaya teman-teman kalau saya humble.

Tahun 2015 adalah titik balik dimana saya menggunakan Gamis pertama saya, maklum suami sudah punya gaji lumayan untuk memberi saya budget membeli pakaian baru, dan itu Gamis, dan saya langsung menantang diri untuk solobacpacker keliling jawa dengan judul "seorang istri sendirian keliling Jawa dengan hijab syari" ternyata diperjalanan respons orang-orang sekitar itu baik, saya merasa dijaga oleh Allah sepanjang waktu, dan  ketika saya lihat-lihat sosmed, olshop, dll, ingin rasanya membeli gamis yang dipakai oleh para tersohor, apalagi wanita-wanita muslimah yang notabene artis, saya pun coba-coba ingin tahu berapa sih harga gamis brand OSD itu, ternyata OMG, beli jilbabnya sehelai saja saya ga sanggup, sampai saya berinisiatif untuk menabung demi membeli jilbab syar'i pertama saya seharga 120rb waktu itu baru gajian.


sewaktu backpackeran di benteng vredeburg, jogja

Berselang waktu, memakai gamis dan jilbab syar'i ini juga ada naik turunnya, kadang kalau datang ke kajian dipakai, bergaul dengan teman-teman tak pakai, ada alasan tertentu kadang kalau naik motor, saya tak mau ribet dengan rok panjang itu. dengan niat yang masih menuju syar'i saya menabung lagi membeli gamis yang saya sukai berikut dengan jilbabnya, ternyata pernah saya membeli satu set dengan harga 300rb, menurut saya ini mahal.

Tahun 2018 sampai sekarang saya hanya punya gamis dan jilbabnya hanya 5 set, itupun saya pakai terkesan itu-itu saja, ya mau bagaimana lagi terkadang bujet saya bukan fokus di baju tapi bagaimana hijrah yang sesungguhnya dari yang tak baik menjadi baik, kalau untuk perempuan mungkin salah satunya dengan pakaian yang semakin tertutup, jujur saja saya malah kalau dibutuhkan masih memakai celana dan blouse kalau keluar rumah dengan ketentuan tetap tidak ketat, tembus pandang dan nyeplak atau paling tidak jilbab segi empat dengan gaya menutup dada.

Bersyukur sampai sekarang saya istiqomah memakai jilbab bahkan ke warung sebelah untuk membeli sebutir telor, tapi untuk gamis dan jilbab lebar masih saya usahakan, kalau ada yang murah dan sesuai syariat kenapa tidak. 

Adalah Avalable brand baru yang akan segera launching di bulan ini menawarkan gamis dengan bahan yang baik dan berkualitas, murah tapi tidak murahan membuat sayembara #journeytosyari dan saya ikut serta untuk menceritakan pengalaman saya hijrah. Bagaimana deg-degan nya saya waktu pertama kali memakai jilbab panjang itu, pikiran saya acakkadut, bagaimana dengan perkawanan saya, apakah mereka akan menjauhi saya, bagaimana nanti kalau mereka bertanya terus saya sok suci dan ga hapal ayat-ayat yang menyuruh saya hijrah, ah semua sudah berlalu, semua dimudahkan Allah ternyata. 

Diumur yang dewasa saat ini saya semakin nyata bahwa semua harus difilter, dan hijab itulah simbol dari filter seorang wanita muslim, entah sikapnya, batas bergaulnya, dan tunduknya ia dari Tuhannya, ah.... hijrah itu ternyata indah.

11 comments:

  1. Wah mantap, langsung keliling Jawa pakai gamis hehe. Aku juga ngerasain penjagaan dr Allah sejak bergamis dan memakai hijab. Makasih sharingnya mbk. Salam, muthihauradotcom.

    ReplyDelete
  2. MasyaAllah ,,�� nisa kagum sama tulisanya kak. Berbicara masalah istiqomah memang sulit ya, nisa pernah juga mengalami hal yang turun naik iman huhu
    sampai bingung juga. Tapi alhamdillah punya teman yang selalu mengingatkan itu enak hihi.

    ReplyDelete
  3. semoga istiqamah y mba, kujuga lg pengen kumpulin bajungamis lg emang nyaman buat dipakai

    ReplyDelete
  4. Luar biasa, sangat menginspirasi, termasuk menginspirasi saya hehehe. Saya hijrah pakai jilbab tahun 2016-an, tidak terasa ya ... tapi belum pakai gamis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gapapa mba blum bergamis yg penting proses dinikmati

      Delete
    2. Insha Allah suatu saat nanti. Amin :)
      Betul, yang penting proses dinikmati.

      Delete
  5. Saya juga pengen deh singkirkan baju lain dan ganti dengan baju syar'i, cuman meski ngumpulin dana dulu karena badannya agak over hahaha

    ReplyDelete
  6. Hijrah emang sangat berat. Tapi kalau yakin, pasti mampu. Btw Cadas ya... Keliling jawa pertama kali pake hijab.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah memberi komentar dengan sopan