Wedding is....




Wanita mana yang tak ingin menikah. Saya sendiri setelah tepat 7 tahun menikah punya persepsi sendiri tentang pernikahan, kalau kata orang tua dahulu, perlu persiapan mental yang kuat, kalau tak kuat bisa sakit syaraf korbannya adalah fisik diri sendiri bahkan anak sendiri. Saya menikah sudah 7 tahun belum dikaruniai buah hati, kelainan kesehatan saya dan suami mungkin bermasalah, tapi skip dulu cerita ini...

Apa sih pernikahan itu, menurut saya menyatukan wanita dan laki-laki dalam ikatan sakral di mata Tuhan dan disaksikan orang banyak itu untuk apa,, untuk membanggakan diri, "oh aku punya lelaki ganteng yang akan hidup bersama denganku seumur hidupku" atau "ohh aku akan hidup tenang dengan uang bulanan dari suami yang selalu ada tanpa bekerja" atau "ohh lelaki yang kucintai akhirnya berserah diri untuk memilih aku wanita terbaiknya", atau lebih liar lagi "aku menggunakan alat reproduksiku dengan lebih terarah lagi, bebas resiko",, lalu bagaimana kehidupan setelah menikah itu,,

Wanita lebih tepatnya saat menikah memang terlihat lebih bahagia, secara diberi mahar/hadiah berupa permintaan wanita dan memang syarat sah menikah, apapun itu asal tidak memberatkan si calon suami misalnya, tapi tahukah perjuangan untuk persiapan menikah saat itu juga seperti biaya dan lain lain.

Saya sendiri punya kisah unik selama pra menikah, saat menikah and life after wedding. Saya dituntut untuk siap dalam segala kondisi apapun, secara menikah dengan seorang lelaki Jawa yang dalam panutan hidupnya, wanita adalah pelayan suami, dengan karakter saya sebagai wanita yang pada saat itu terlalu idealis untuk menjadi wanita mandiri, keras kepala, karakter yang pemberontak, dan egois.

Wanita itu dituntut untuk siap dalam tugas multi kompleksitas.

Mutikompleks yang dimaksud adalah seluruh kebaikan bak bidadari harus kita tampakkan selalu, wajah semanis madu, wangi semerbak bunga dan tiada cacat sedikitpun, tanpa disadari, itu tugas mulia yang harus dijunjung. Apa kesepakatan hasil yang didapat, apakah uang nafkah atau pujian dari si suami.

Mana janji-janji yang selalu ingin memanjakan wanitamu dikala pra-pernikahan aka pacaran dulu semasa itu apapun yang tak diminta selalu ditanya bahkan diberi secara kejutan bak cerita negri dongeng, after that masalah kaos kaki hilang sebelah saja istri dibilang tak becus mengurus suami, masakan kurang garam sedikit dibilang tak lihai mengisi perut suami. Berbagai hal kompleks nan receh dalam pernikahan yang pernah atau mungkin Anda alami saya jabarkan sedikit dibawah ini.

Multikompleks pertama : keuangan rumah tangga.

Keuangan adalah dampak pertama dari perceraian hingga KDRT, begitu mengerikannya uang ini mempengaruhi hidup seseorang, pada masa sekarang kalau anda sering melihat sinetron keluarga ideal dengan suami pergi ke kantor bekerja pagi hari, pulang sore hari, istri dirumah mengurus rumah disertai pembantu dalam urusan tugas domestik, istri menjemput anak-anak naik mobil dadah-dadah manjah, ikut arisan ini itu dll, suami pulang kerja istri tetap bahenol wajah berseri dll, bagaimana faktanya,,, 

Sekalipun menjadi istri dari seoang pegawai tetap, ada satu kasus suami pegawai swasta yang selalu pulang malam hari dan ia menjatah si istri dengan alibi agar istri tak terlalu boros, padahal jatah dari gaji bulanannya itu hanya 50 persen dan itu untuk semua keperluan kerumahtanggaan seperti belanja bulanan untuk makan sekeluarga (yang si suami juga menikmatinya) tagihan-tagihan bulanan rumah, listrik dan air minum, belum biaya sakit, pengeluaran tak terduga seperti sumbangan kalau ada undangan uang atau kado, bocor genteng, sempak bolong, tv rusak dll, jadi yang setengah gaji nya yang lain kemana, untuk dia sendiri dengan alasan lain, karna dia yang cari uang, jadi nafkah lahir untuk khushus istri yang mana, pandai-pandailah menabung diantara 50% jatah tadi katanya, bila wajah ingin kinclong jadinya berhutang kredit, bila panci bolong, piring pecah, dari itu semuaa,,,, woohoooooo egois sekali engkau suami, maka istri berinisiatif mencari uang  dengan bekerja, dalihnya ingin membantu keluarga dan memang sekalian agar ia bisa menikmati masa jenuhnya dirumah dengan rehat sebentar dari keluh kesah urusan domestik rumah yang segunung masalah, dan juga penghasilan yang ingin dinikmatinya sendiri untuk hal-hal primer seperti kebutuhan jiwa seorang perempuan, seperti shopping, perawatan diri ke salon dan liburan bersama keluarga, sungguh mulia niatnya, yang lucunya si istri tidak diizinkan bekerja keluar dari rumah, maka apa yang terjadi pertengkaran dimulai, dia bilang istri harus dirumah itu sunnah, tapi tidak dipenuhi nafkah lahir, itu sama aja dengan kezaliman.

Multikompleks kedua : urusan domestik

Pekerjaan rumah tangga, membersihkan rumah, mencuci, menyetrika, mengurus anak, memasak, adalah pekerjaan kontiniu yang tak ada habisnya, terkecuali anda cukup kaya dengan menyewa seorang PRT tinggal perintah ini itu, tiada capek, dan masalah anak-anak kita yang pegang, itupun kalau kadang masalah eek si bayi, si bibik yang dipanggil.

Lain hal wanita zaman sekarang yang menurut saya semakin cerdas, bukan karna tidak mau mengurus tetek bengek dirumah, terkadang ia memilih bekerja untuk bisa punya gaji, untuk menggaji si bibik tadi, apalah maksud, "istrimu ga pandai mengurus anak", kata mertua, tapi dia juga ingin istrinya cantik rambut lurus selalu, lalu masalah cucian, apalah susahnya bergantian dengan suami, bagaimana yang rumahtangganya hidup sederhana, terkadang lelaki bertingkah yang tak kerja, mengurus anak tak mau, membantu istri dirumah tak mau, kenapa tak berpisah saja.

Perkara kamar belum disapu, si suami pulang kerja semua mau pandangannya indah, si istri sudah kelelahan eh malah dimarahin dan pertengkaran pun terjadi, sebenarnya masalah ini sudah banyak sekali dimuat di media sosial, tapi yang buat receh si suami yang selalu menyalahkan istri ini menjadi alibi perselingkuhan dengan alasan-alasan receh kampret seperti itu.

Multikompleks ketiga : koneksi dengan lingkaran luar

Maksud diatas atdalah keluarga suami dan keluarga istri, apalagi yang turut serta menjadi saksi pernikahan kita diawal, saya sendiri punya kisah yang lumayan sedih tentang hal ini, tapi skip saja, banyak wanita yang bersebrangan dengan mertua dengan merasa suami adalah miliknya, padahal suaminya adalah tetap anak dari ibu mertuanya, terkadang  cemburu tiada maksud juga menyertai hal ini, apalagi suami menjadi soleh dan masih menyantuni ibundanya dikala hari tua, kita sebagai istri kalau bisa legowo dengan hal tersebut, yang banyak jadi masalah sebenarnya ketidakwarasan dari hal ini adalah si ibu mertua benci tak menentu dengan menantu perempuan, semua yang tampak tak normal dimatanya menjadi bahan aduan untuk anaknya aka suami, jadi pertengkaran pun terjadi, manalah ada kasus yang lebih parah gara-gara hal tersebut hampir menyebakan perceraian, antara memlilih istri dan ibunya sendiri, kan gawat.

Belum lagi masalah-masalah intern rumah tangga di bumbui oleh keuarga besar, "eh si anu, anu-anu ya,,, begini begitu", "koq lama banget ya punya anak, eh istrinya koq gendut banget ya, koq kurus banget ya,, ihh koq sayang banget ya si suami sama istrinya",,, nyinyiran tiada henti bahkan bukan dari oleh orang lain melainkan keluarga, bodoh atau bagaimana ya.

Multikompleks keempat : ada orang ketiga

Saya sempat mengalaminya meskipun hanya percikan dan itu sudah lama disingkirkan, dan tak muncul lagi di permukaan karna saya mencegah jangan sampai hal itu terjadi, sejelek-jeleknya suami kita hanya kita yang boleh memilikinya, which means, kita sudah menerima akadnya dari orangtua artinya kita siap sehidup semati dengannya.

Dalam pernikahan pasti ada titik jenuh, pandailah mengetahui kapan dan harus bagaimana mengatur kenapa bisa jenuh,, sebagai istri yang tugasnya harus multi talent, mengisi kekosongan waktu bersama harus punya ide-ide yang kadang out of the box agar suami merasa tertantang dan mencintai istrinya yang cerdas selalu, dibutuhkan istri yang selalu rajin membaca, membuat kejutan-kejutantyang lagi-lagi perlu tambahan biaya, tidak segampang itu, untuk tau isi hape masing-masing saja kita juga aneh, saya sendiri tidak pernah hape dipegang suami, malah saya yang selalu ingin pegang hape suami entah kenapa kalau dia terlalu fokus sama hapenya membuat saya sudah cemburu.

Kalau sebagai istri, kita menjadi yang terlalu biasa saja maka suami akan mencari tantangan diluar kemampuan kita misalnya selingkuh walaupun itu hanya chat, sebagai istri kita punya feeling yang selalu tak enak, perangai yang negatif itu langsung muncul, dikala tiba-tiba ia cenderung membawa hapenya ke toilet selalu, dan ini mengingatkan saya bahwa saya pernah disalahkan atas kejadian tersebut, karna apa, mungkin suamimu jenuh karna kalian belum punya anak,,, bahhhh salah gue, salah emak gue,, salahin Tuhan aja gak sekalian. Dasar manusia Bodoh.

Solusi atas masalah multikompleks diatas adalah saya juga tidak tahu, hanya saja tulisan ini lebih membukakan mata kita sebagai pembaca untuk cerdas, saya juga share atas pengalaman selama berumahtangga dengan suami saya selama 7 tahun, masalah diatas tidak mungkin tak pernah para istri rasakan, diperlukan banyak cinta untuk bisa menghadapinya, intinya adalah sudah banyakkah cinta yang ditanam sejak pertamakali berjanji setia saat awal menikah.

NB: tulisan ini dibuat untuk memperingati happy anniversary 7 tahun saya dengan suami, setelah bergejolak dengan dinamika permasalahan rumah tangga dan saya bertahan hingga kini dengan senyuman meskipun airmata lebih banyak.

NBB : suami kutukupret menghasilkan istri kutukupret, laiknya jodoh itulah cerminan kita, untuk para suami yang merasa semena-mena dengan alasan kamu sebagai imam, imam yang bagaimana dulu nih yang perlu diikuti perintahnya.

NBBB : follow the rules, sesuaikan hak dan kewajiban antara suami dan istri, terlebih fokuslah terhadap komitmen kenapa kamu menikah tanpa dipaksa oleh orang lain terlebih itu adalah hal suka sama suka.

Untuk yang ingin berdiskusi silahkan komen yaa,,,, thanks

Salam cinta, dari istri menuju solehah.





Wedding is.... Wedding is.... Reviewed by Desy Zulfiani on Juli 08, 2018 Rating: 5

17 komentar:

  1. Happy aniv kakak, semoga aku kuat mental menghadapi pernikahan jika sudah menikah nanti terlebih lagi mempersiapkan mental krn selalu ditanya KAPAN NIKAH yah berhubung usia ku sudah 26 tahun xoxo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya tahun depan deh keknya ahaha umur 27 lbh pas wakaka

      Hapus
  2. Semoga yang belum nikah segera nikah, aaamiiin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamin nesia... Bolehlahh aq nyumbang mekap nya wakkka

      Hapus
  3. Semogaa menikah nanti bisa melaksankan kodrat sebgai istri dan kuat mental. .

    BalasHapus
  4. Happy anniv kak ecy.. Semoga aku nantinya bisa jadi istri yang soleha. Amiinn.. Dan masih bisa berdandan pastinya. Wkkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasii pastilah dandan kan kebutuhan suami secara visual dek

      Hapus
  5. Setiap pernikahan punya struggle dan battle nya masing masing ya kak. Sebagai perempuan kita harusnya saling dukung bukannya menjatuhkan. Aku itu nikah sama orang karo kak yang notabene dulu pas pacaran kami diam diam karena ibunya gak suka sama orang padang, tantangannya pas sebelum nikah sih. Alhamdulillah anggapan bahwa orang padang itu pelit atau suka kemewahan alias nanti suaminya cuman dikasih sempak aja terpatahkan sudah. Cuman sekarang tantangannya ya urusan sama mertua sih kak ada beberapa beda pendapat karena kami sama sama dominan. Laaaaaahhh kenapa jadi curhat. ������

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti aq buat jurnal tentang cerita honest pernikahanku yg menguras airmata ahahaha, kamu gak sendiri koq ata..

      Hapus
  6. Kece sih ini kak eci tulisannya. Dalemmm ����

    BalasHapus
  7. Happy aniv kk desy yg comel semoga setelah baca tulisan akak ini awak kuat mental semoga yang jomblo disegerakan couple heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiinn.. masih bnyk waktu adek utk belajar hihii

      Hapus
  8. bener ya kata orang2.. pernikahan itu kaya kita memandang gunung.. dilihat dari jauh seperti yang indah.. tapi begitu didekati ternyata banyak jalan terjal dan jurang menganga

    BalasHapus
  9. Waahhh sukaaa bacanya.
    Selamat mengenang hari pernikahan yaaa :*

    Masalah rumah tangga, yang penuh dengan kompleksnya.

    Btw, saya kadang heran dan kepo, ada ya suami yang pelitnya naudzubillah gitu.
    Juga kepo, dulu sebelum nikah, apa dia sepelit itu?

    Tapi ya gitu, setiap pernikahan pasti punya tantangan tersendiri, ada yang suaminya pelit, ada yang suaminya reseh, ada yang suaminya membosankan.
    Dan di kehidupan, seperti apapun kita para istri, selalu terlihat salah di mata orang lain.

    Menikah memang sebuah perjuangan, semoga kita bisa selalu memenangkan perjuangannya dan menjadi penghuni surga dan juga di dunia.

    Btw juga, saya setuju dengan tulisan, salahkan Tuhan aja.
    Saya juga kalau ditanya ini itu, kalau udah bosan, saya jawab ya tanyain Tuhan dong, hehehe..

    Semangat selalu yaaa :*

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.