what if, kalau saja.......

Georgetown, Penang. Renjana cjtrip yang terwujud di feb 2020, sebelum covid menyerang.

Seandainya kalimat, "kalau saja aku tidak mengambil kesempatan itu" atau kalimat "kalau saja dia tak bertemu denganku", "kalau saja aku tak menikah", atau kalau saja lainnya...

Adapun sebelum menyadarinya, aku sudah tau bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, kecil pun itu tetap sudah sesuai dengan ketentuan yang punya dunia ini. tapi sewaktu aku masih berumur 20an, dengan lantang masih ingin menguji diri setangguh apa diri ini, aku berpendapat bahwa semua yang terjadi adalah tidak lain karna kerja keras, karya nyata karena aku telah berbuat, bahwa hari ini adalah hasil perbuatan kemarin dan hari esok adalah perbuatan hari ini. sekecil inilah pemikiranku.

pertemuan, kesempatan dan pengalaman yang kita dapatkan di harini apakah semata-mata karena keputusan kita secara sadar. lama aku berfikir kalau kalau ini semua sudah di set blue print oleh sang maha kuasa di dalam inti sel otak kita, bahwa tanpa sengaja menjadi tau apa respon kita bila ingin melakukan sesuatu. banyak sekali mozaik kehidupan yang misteri ini, tapi jangan kalian tanya apa itu takdir. bila mengenai nasib mungkin aku masih bisa berpendapat lain atau bahkan sok mengkritisi solusi, tapi tidak, ini lain hal, karna kita bercerita tentang, What if.

seperti hari ini, kalau saja pandemi covid tidak berdampak ke indonesia, bagaimana bila aku sendiri yang menjadi korban, mungkin itu adalah pertanyaan dasar di setiap insan indonesia di manapun berada yang bergerak dan berinteraksi dengan orang-orang, tapi dalam pada itu kita tetap punya respon tersendiri sebelum itu mengenai kita bukan. taruhlah kita tidak tau apa rencana tuhan kepada kita, tapi atas semua itu bukankah kita masih punya harapan kepada-nya agar renjana kita terwujud.

aku tidak pernah menyangka akan punya anak diusia matang atau bahkan kalau saja aku tidak mengambil kesempatan pergi ke singapore tahun 2019 itu, mungkin aku tak kan pernah kesana karna pandemi yang belum berakhir sekarang ini melarang manusia berpaspor indonesia, karena di banned. Atau cerita lebih seru bagaimana CJtrip memilih tanggal di bulan februari 2020 untuk membawa tour 11 orang dari medan ke penang, kalau saja dipilih tanggal awal maret, mungkin cjtrip akan tidak pernah ada.

logika-logika di atas mungkin bisa dijelaskan dengan logis, bisa juga tidak, sebagian menyatakan itu kuasa allah karna telah menggerakkan akal, jari, mata dan ruh ini menuju takdirnya sendiri, perkara keputusan yang terucap dan langkah yang diambil karna pilihan kita itu, sudah secara sengaja memang berada di dalam bawah sadar kita, bahwa kita harus mengakui ini memang qadar-nya.

tidak ada kebetulan di dunia ini yang ada hanya kebenaran, kebenaran yang haq bahwa kita tidak bisa lepas dari pencipta, bahkan tulisan ku kali ini. 

kalau saja anda mengambil kesempatan meski menggadaikan kebenaran dalam diri tapi itu seolah-olah di ridhoi, mungkin saja pencipta ingin menguji anda sekalian. apakah tetap berada dalam garis kesyukuran atau pindah ke garis kekufuran.

seperti jodoh, "koq bisa ya dia menikah dengan si A padahal kan....", "begitulah kalau sudah digerakkan oleh Allah jadi dimudahkan" nah ini contoh. kalau saja si A tadi punya keputusan tidak menikah bagaimana?, bisakah kita memaksa. tentu tidak marimar.

akal budi itu terbentuk, selayaknya karakter dibentuk oleh orangtua dan lingkungan, tapi sifat dasar baik dan buruk itu merupakan keputusan diri sendiri. setidaknya sudah tau baik dan buruk tapi lebih memilih buruk. nah, itu resiko masing-masing.

jiwa frontal masih ada, mungkin masih ada rasa ingin tau yang lebih, tak apa asal tetap kembali, kembali kejalan fitrah, fitrah yang bagaimana. maka bila diri tak bisa mengontrol, ada iman yang menjadi dinding batas seseorang, apakah akan tetap di jalan berliku, lurus atau bermanuver balik ke jalan hijrah.






what if, kalau saja....... what if, kalau saja....... Reviewed by Ceritajalan.com on Februari 15, 2021 Rating: 5

1 komentar:

  1. Dulu aku srg mba berfikir what if begini, what if begitu... Pernah pas mendapat kemalangan, trus sempet aku berfikir, seandainya dia ga DTG ke rumahku, apa dia ga akan kecelakaan, apa dia akan masih hidup, dll.

    Tapi, ustadku sempet menegur, Krn katanya itu berarti aku ga mempercayai takdir Tuhan. Semu udh digariskan, ga usah mempertanyakan lagi seandainya begini dan begitu . Akupun pelan2 belajar Nerima apapun yg udh ditetepin :).

    BalasHapus

Terimakasih sudah memberi komentar dengan sopan

Diberdayakan oleh Blogger.