,

Travel Blogger Medan: Museum Uang Sumatera



"Selamat datang ke museum" 

Kapan terakhir kali kamu pergi ke museum, kalau saya dari tahun 2017 itupun di negara tetangga, kalau yang di kota Medan ya baru kemarin 2 minggu lalu tepatnya.

Saat itu saya dengan Siska Hasibuan sudah merencanakan untuk jalan-jalan ke kota mencari referensi, lagi-lagi untuk konten, karna saya sendiri sudah lama tidak menulis di blog. Dan juga tujuan nya ke museum jadi saya mengiyakan.

alat tukar bernilai uang pada zaman kerajaan-kerajaan nusantara

Museum uang sumatera, hanya ada 3 di Indonesia, kota Medan menjadi salah satunya, berada di gedung juang 45, jl. pemuda no. 1 tepat di depan Hotel Hermes Medan. Museum ini merupakan koleksi asli dari seorang kolektor Bapak Sapparudin Barus, menurut informasi dari kurator museum, sudah terlalu banyak koleksi beliau sehingga harus ditampung di ruang khusus serta dipertunjukkan oleh khalayak ramai, masyarakat umum maupun pelajar. Koleksi uang disini berasal dari berbagai negara, sejarah serta berbagai daerah di kerajaan-kerajaan nusantara dan tampak terawat dengan baik.

uang asli dari negara Vietnam dan Zimbabwe

salah satu surat berharga yang berlaku pada tahun setelah kemerdekaan

uang 2 dimensi

sudut refrensi bacaan di museum



salah satu spanduk keterangan dari salah satu koin 




alat mesin cetak ORI

Semua koleksi yang dipamerkan juga tak hanya uang, tapi juga koleksi alat cetak uang pertama RI, yaitu mesin cetak kertas Oeang Republik Indonesia (ORI), serta semua alat tukar yang berharga dan bernilai uang, seperti cek, token, surat berharga, kupon bahkan stempel.

Ternyata duit itu tidak sama dengan uang. Bagaimana ceritanya, jadi di museum inlah saya juga baru mengetahui bahwa duit berasal dari kata Doyt, bahasa Belanda yang dimaksudkan untuk menyebut pecahan uang, sedangkan uang itu sendiri adalah nama bendanya. Menjadi similar karena penyerapan bahasa Belanda ke bahasa baku Indonesia menjadi "duit" yang juga diartikan sebagai uang.

Ada suatu hal unik yang mengganjal mata saya ketika ada satu uang pada masa transisi penjajahan Belanda selesai dan masuk penjajahan Jepang ke Indonesia.
Belanda masih menyokong gulden sebagai mata uang Jepang untuk digunakan sewaktu penjajahan Jepang di Indonesia, kalian harus lihat sendiri uangnya. Sampai pada kesimpulan saya bahwa penjajahan mempengaruhi peredaran mata uang dan sistem transaksi di suatu negara.

Masa Kejayaan Kesultanan Deli dan Perkebunan Tembakau di Sumatra Timur


Masa ini adalah masa dimana masjid raya Al-mashun dibangun, sekitar tahun 1800-an, Sultan dan pihak Belanda menjalin kerjasama dalam membuka lahan-lahan perkebunan, sehingga sampai terjadi konflik yang disebabkan oleh berlakunya sistem monopoli uang, kecemburuan sosial beserta ke-tidaksamarata-an sistem kerja berdasarkan ras/suku. Dan juga politik Belanda yang menghancurkan kepercayaan rakyat terhadap Sultan.

Hanya terdapat 1 alat transaksi yang berlaku dalam 1 kebun atau afdeling (pemukiman tempat tinggal masyarakat yang bekerja di kebun-kebun). Alat ini bernama token, nah token itu bernilai sama dengan uang tapi nilainya hanya sang pemilik kebun yang boleh menentukan berapa nilainya, lalu token ini hanya bisa dipergunakan pada jual beli di tempat-tempat yang sudah ditentukan si empunya kebun (rata-rata orang belanda) yaitu di kedai-kedai orang Cina. Token ini dibagi oleh pemilik kebun untuk menggaji rakyat yang bekerja di kebun mereka.


Sejarah Peredaran Uang di Indonesia Setelah Kemerdekaan


Tahun 1945, setelah merdeka, pemerintah Indonesia mencetak uang pertama yang disebut ORI sebagai mata uang sah negara, dimulai dari pecahan 1 sen sampai 600 rupiah.

Tahun 1947, Agresi Militer Belanda I, pihak Belanda ingin menguasai kembali Indonesia serta melumpuhkan perekonomian Indonesia, dengan cara mereka menyebarkan mata uang Belanda ke setiap daerah di pulau Sumatera sampai pulau Jawa, mereka membuat perbatasan-perbatasan yang dijaga oleh prajurit Belanda, sehingga ORI tidak bisa disuplai ke daerah-daerah, sementara Belanda mencetak uang juga di Indonesia dengan mata uang seri federal, untuk dipakai masyarakat. Sedangkan pemerintah tidak mau hal ini terjadi, maka pemerintah mengakali bagaimana ORI harus terus dipakai. Pemerintah kita membuat kebijakan setiap daerah harus mengeluarkan dan menggunakan uang daerah masing-masing dan di tandatangani pejabat setempat seperti gubernur, bupati dan walikota agar uang tersebut sah digunakan.

Tahun 1949, Agresi Militer Belanda II, pemerintah Indonesia mengupayakan dan berjuang sampai Belanda benar-benar diusir dari Indonesia, sehingga dampak dari hal ini adalah pemberhentian mata uang daerah yang hanya 3 tahun berlaku, namun banyak masyarakat masih menggunakan mata uang Belanda, pemerintah ingin menarik pengedaran mata uang Belanda yang masih berlaku agar dihapuskan, pemerintah RI membuat kebijakan, siapa saja yang yang mempunyal mata uang Belanda dipotong menjadi 2, bagian sebelah kanan menjadi alat obligasi pemerintah, sebelah kiri sebagai alat pembayaran yang berlaku dengan catatan juga bernilai setengah dari nilai uang yang berlaku saat itu. Sehingga pada masa itu banyak orang-orang depresi yang bunuh diri karna pemangkasan nilai uang tersebut. Usaha ini agar ORI tetap beredar dan dipergunakan secara massal di negara Indonesia.

Nah, bagaimana? sudah bertambah kan ilmu pegetahuan kita tentang sejarah uang, tulisan ini masih sedikit loh dari apa yang dipamerkan di museum tersebut, makanya buat kawan-kawan yang masih penasaran segera saja datang langsung kesana.

Bisa juga lihat cuplikan vlog saya di bawah ini.







Share:

12 comments:

  1. Saya belum pernah ke Museum. Karena artikel ini, saya jadi penasaran dan ingin melihat-lihat juga. Thanks artikelnyašŸ¤—

    ReplyDelete
  2. Full.... Kalo datang lebih merinding

    ReplyDelete
  3. Duit berasal dari kata doyt, asli baru tahu. Aku udah bolak balik lewat di depan museum uang ini, tp nggk kesampean terus mau masuk

    ReplyDelete
  4. Aku ga pernah ke museum kak... Apalagi museum uang. Ini di akhir pekan bisa dikunjungi kak?

    By the way main sendiri aja kelen ya... Ga ajak aku

    ReplyDelete
  5. Aku merinding liat uang Zimbabwe yang 50 juta itu. Haha, saking gak ada nilainya, sampe per lembar ada yang puluhan juta. Anak2 kemarin pas mau kemari gak jadi, jadinya gak jadi nulis lah, haha.
    padahal udah direncanakan taunya ditulis duluan sama kak desy

    ReplyDelete
  6. Kalau masuk ke museum ini bayar nggak? Soalnya pengen ngajak temen juga.

    ReplyDelete
  7. Kesimpulan yg tak salah lg itu. Selain memengaruhi mata uang dan sistem bertransaksi, penjajahan pun memaksakan berlakunya sistem hukumnya di nusantara.

    ReplyDelete
  8. Baru tahu zaman dulu ada token ya kk, mungkin itulah yang menginspirasi token bank zaman sekarang

    ReplyDelete
  9. Fokus ke mata uang Zimbabwe, fifty million dollars. Kalau dollar US dollar, auto millionaire itu ya?

    ReplyDelete
  10. Satu lagi tempat di Medan yang wajib dikunjungi ya kak. Apalagi bawa anak2 jadi senang bisa mengenalkan berbagai jenis mata uang.

    ReplyDelete
  11. kak..museum ni kalo bawa anak2 kunjungan kemana menghubunginya?

    ReplyDelete

Terimakasih sudah memberi komentar dengan sopan